Kepemimpinan Berintegritas a la Tri Rismaharini

KEPEMIMPINAN BERINTEGRITAS – Tri Rismaharini, Walikota Surabaya

Jumat, 7 April 2017

“Leiden is lijden. Memimpin adalah menderita.”  -Mohammad Roem

Salah satu walikota terbaik Indonesia,  Tri Rismaharini, percaya bahwa kemauan kuat dan keberanian diperlukan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.  

Tri Rismaharini dalam talkshow berjudul “Kepemimpinan Berintegritas” yang diselenggarakan di Erasmus University Rotterdam (07/10) atas kerjasama PPI Belanda dan PPI Rotterdam membagikan rahasianya kepada mahasiswa Indonesia di Belanda.

Wanita yang akrab dipanggil Risma ini merupakan penerima penghargaan Alumni Terbaik dari International Alumni Award, dari Institute of Housing Studies (IHS) Rotterdam, dianugerahkan kepada beliau dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa UN Habitat jilid 3 di Quito, Peru, atas kepiawaiannya mengaplikasikan ilmu yang beliau peroleh untuk mengubah Surabaya.  Penghargaan ini diberikan kepada alumni yang menyebarkan dampak positif terhadap lingkungannya. Selain itu, berdasarkan survey Gallup, Surabaya menjadi kota dengan City Happiness Index nomor dua, setelah Chennai.

Dalam talkshow “Kepemimpinan Berintegritas”, yang dihadiri oleh puluhan mahasiwa Indonesia di Belanda, Risma membagikan pengalamannya dalam membawa perubahan yang ia lakukan selama delapan tahun kepemimpinannya di Surabaya.

Free education and health service. Menurutnya, pendidikan adalah kunci dari pembangunan manusia. Ia merubuhkan sekolah yang bobrok, dan membangun kembali gedung baru, dengan standar bangunan yang baik; membangun perpustakaan di beberapa perkampungan; menggratiskan sekolah dari jenjang SD hingga jenjang SMA; dan membebaskan biaya kesehatan agar warga Surabaya tidak kesulitan dalam mendapatkan akses untuk kebutuhan mendasar.“Pertama kali saya mencoba skema sekolah gratis, masih banyak yang tidak mau sekolah. Akhirnya, saya merangkul mahasiswa-mahasiswa untuk mengajak adik-adik usia sekolah yang tidak mau pergi ke sekolah, dan ternyata siasat ini berhasil,” ujarnya. Ia juga tidak tanggung-tanggung berinvestasi dalam membangun lapangan olahraga dalam rangka mendukung atlit-atlit masa depan dan memastikan warga Surabaya memiliki tubuh yang prima karena berolahraga.

Pembangunan yang memanusiakan manusia. “Untuk apa membangun infrastruktur yang ‘wah’, kalo nantinya warga luar Surabaya yang menikmatinya. Saya inginnya warga Surabaya bisa hidup dengan bahagia.” Berbagai cara beliau coba terapkan, berbekal background Arsitektur dan Manajemen Tata Kota yang beliau peroleh di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan Institute of Housing Studies (IHS) Rotterdam. Atas kemampuannya menerapkan ilmu ekonomi, sosial, teknik, dan bisnis, ia sukses meratakan pembangunan ruang publik, mengurangi banjir, menurunkan temperatur kota Surabaya yang dikenal panas, dan membangun infrastuktur dalam mendukung kegiatan warganya.

Menjaga kebersihan Kota, kesejahteraan merata, dan kesehatan warga Surabaya adalah tanggung jawabnya. Dalam pandangan Tri Rismaharini, semua warga Surabaya merupakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Setiap hari beliau membawa sapu dan beras, agar bila bertemu warga miskin yang kekurangan makanan, beliau bisa langsung turun tangan membantu mereka. Dan apabila ada sampah, beliau akan langsung membersihkannya. “Pernah saya pas lagi turun di suatu kampung, ada warga yang jalan depan rumahnya kotor. Yasudah saya keluarkan saja sapu dan saya bersihkan itu jalan sampai bersih, dan saya abaikan warganya yang mau nggantikan saya bersih-bersih. Besok-besok saya lewat jalan itu lagi, bersih terus, tuh. Berarti trik saya berhasil, kan?” Beliau juga mengaplikasikan Waste-to-Energy plant dalam pengolahan sampah, dan menjual listriknya kepada PLN.

Pernah di awal kepemimpinannya, rumah sakit selalu penuh pasien yang mengidap penyakit muntaber, diare, dan gangguan saluran pernapasan. Untuk menanggapi hal ini, beliau tidak terburu-buru menganggarkan dana pembangunan rumah sakit baru, melainkan menata kebersihan kampung-kampung kota. Delapan tahun sejak usahanya mengkampanyekan pemukiman bersih dan sehat, jumlah pasien dengan keluhan penyakit-penyakit tersebut berkurang secara drastis.

Ruang Publik dan Taman Kota itu penting! Saat ini, warga Surabaya tidak perlu khawatir kekurangan taman dan ruang publik untuk berinteraksi, karena banyak sekali area luar ruang yang bisa dijadikan tempat rekreasi, gratis. “Saya bangun taman di beberapa lokasi, termasuk bekas Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Saya normalkan fungsi bantaran sungai dari perkampungan tanpa ribut, dan belajar dari Belanda, saya aplikasikan ilmu agar ruang pinggir sungai menjadi atraktif.”

Ekonomi Surabaya sehat dan warga Surabaya produktif! Setelah infrastruktur dasar terpenuhi, apalagi langkah Tri Rismaharini di bidang ekonomi? Ia paham betul tentang enterpreunership dan mencoba mengubah banyak kondisi masyarakatnya melalui business training and branding.  “Dulu, banyak wanita pengangguran lulusan SD dan SMP di Surabaya, mereka punya background yang berbeda-beda, mulai dari TKW hingga mantan pengedar narkoba. Akhirnya, saya coba ajak ngobrol mereka tentang keahliannya masing-masing. Ada yang bisa bikin kacang goreng, baso, dan pernik-pernik. Saya ajari mereka packaging supaya menarik. Sekarang, omzet orang-orang ini bisa 2 juta per hari, bahkan ada yang sudah bisa ekspor.” Mereka saat ini tergabung dalam program bernama Pahlawan Ekonomi.

Selain warga putus sekolah, beliau aktif mengajak kaum muda lewat program Pejuang Muda. Kegiatan ini bertujuan untuk membimbing anak-anak muda, terutama yang lahir dalam keluarga dengan ekonomi kurang mampu, dan bangga terhadap kemampuan mereka di bidang tertentu. Program ini juga bertujuan mendidik remaja-remaja kurang mampu agar bisa memiliki penghasilan sendiri. Beberapa kegiatan yang sudah diselenggarakan antara lain computer training, menjahit, dan beberapa capacity building.

Pemberdayaan masyarakat melalu Kampung Produktif juga menghasilkan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Effort Pemerintah Kota Surabaya dalam peningkatan kemampuan enterpreneurship warga kampung kota, petani, dan pelayan menjadikan perekonomian masyarakat perkampungan dan masyarakat petani serta nelayan terangkat. “Saat ini, harga jual hasil pertanian, sudah bisa dijual di hotel Bintang 5 mereka bisa menjual produk organik yang berkualitas. Sama juga dengan warga kampung-kampung (produktif) sudah beberapa bisa ekspor produk,” ucapnya bangga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *